Pilih Bahasa

KUALIFIKASI AIR WILAYAH PESISIR SEBAGAI KRITERIA BAKU MUTU LINGKUNGAN PERAIRAN

TIARA PUSPA ANJANI,S.Pi., M.Si.
Dosen Akuakultur, FPBB Universitas Bangka Belitung

Wilayah pesisir merupakan sebuah kawasan yang memiliki peran utama serta strategis bagi masyarakat pada umumnya dan bagi Indonesia pada khususnya. Menurut Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, yang menyatakan bahwa wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara Ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh perubahan di darat dan laut. Hal ini menunjukan bahwa pesisir merupakan hal vital bagi kehidupan masyarakat khususnya yang berhubungan langsung dengan pesisir pantai seperti kualitas air.

Kualitas air di wilayah pesisir ini ditengarai sangat terpengaruhi oleh kualitas pengelolaan dan kebijakan yang berkaitan dengan lingkungan yang dilakukan aktivitas masyarakat di wilayah daratan, karena laut sering kali dijadikan sebagai “wadah” pembuangan limbah dari daratan. Kegiatan penambangan timah yang dilakukan di wilayah daratan berdampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap kualitas air di wilayah perairan ataupun pesisir, salah satunya berada di Pulau Bangka maupun Belitung.

Kegiatan penambangan timah yang secara nyata menghasilkan limbah, masih banyak yang membuang limbahnya dialirkan secara langsung ke sungai yang menuju laut selepas tahapan pencucian terhadap timah yang ditambang secara inkonvensional. Mendasarkan penelitian yang dilakukan oleh Erwana (2016), masuknya limbah secara terus menerus akan mengakibatkan dampak negatif seperti pencemaran tanah, pencemaran udara, pencemaran bentang alam, hingga pencemaran air. Semakin banyak limbah yang masuk ke lingkungan mengakibatkan adanya akumulasi bahan limbah. Hal ini akan menyebabkan daya lenting lingkungan semakin menurun, sehingga lingkungan akan mengalami kerusakan.

Limbah yang masuk ke wilayah pesisir secara terus menerus akan mengakibatkan suatu wilayah tersebut menjadi “pekat”. Proses ini terjadi jika logam berat yang masuk ke perairan tidak tersebar oleh turbulensi dan arus laut. Bagian bahan pencemar yang tidak diencerkan dan disebarkan atau terbawa ke laut lepas akan diabsorbsi atau dipekatkan melalui proses biofisikkimiawi. Kemudian logam berat tersebut tersuspensi di air laut (sedimen melayang) dan terakumulasi ke sedimen dasar (terdisposisi).  Selain dilihat dari logam berat, parameter fisika dan kimia juga mempengaruhi suatu lingkungan. Menurut Muftiadi et al. (2019) melaporkan bahwa wilayah pesisir di sekitar Bangka Selatan  memiliki kualitas air yang cukup bagus sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004 tentang Baku Mutu Air Laut yang diperuntukkan untuk wisata. Parameter fisika dan kimia yang sesuai dengan mutu baku adalah derajat keasaman/ pH dan suhu adalah  6,7-8,28 dan 29,2-30,32 °C. Namun untuk pH ada di titik tertentu memiliki pH yang lebih rendah. Hal ini disebabkan karena  adanya bahan limbah yang melebihi sehingga menyebabkan adanya penurunan pH air. Sayangnya, nilai kecerahan di wilayah pesisir tersebut antara <1 m yang mana menurut UU no 51 tahun 2004, kecerahan yang baik untuk wisata pesisir dan biota adalah  >6 meter. Nilai kecerahan yang rendah biasanya terjadi karena ada beberapa faktor seperti tingkat kekeruhan, bahan larutan yang ada di lingkungan, upwelling di wilayah tersebut.

Hasil luaran ketika ada penambangan timah adalah logam berat. Jenis logam berat yang ada seperti Pb, Cd, Cu, maupun Zn. Menurut penelitian Nugraha et al. (2022), Logam berat Pb, Cd, Cu, dan Zn memiliki nilai kisaran 0,12-0,18 mg/kg; 0,02-0,06 mg/kg; 0,01 mg/kg dan 0,54-1,34 mg/kg. Nilai logam berat seperti inti apabila dibandingkan dengan penelitian yang lain logam beratnya rendah. Namun walaupun rendahnya nilai logam berat apabila terus menerus limbah masuk dikhawatirkan adanya akumulasi yang tinggi. Akuamulasi logam berat yang tinggi dapat mengakibatkan beberapa permasalahan untuk kedepannya. Permasalahannya yang paling dekat adalah ketidaknyamanan bioata. Biota yang tidak kuat dengan kerusakan lingkungan bisa mati dan punah namun apabila mereka bisa bertahan maka akan terjadi mutasi genetik. Salah satu biota yang terancam kelangusngan hidupnya adalah ikan.

Ikan adalah salah satu biota yang hidup di perairan yang sangat berpengaruh terhadap keadaan lingkungan. Pengaruh ikan yang berada di lingkungan tercemar dapat dilihat dari kelangsungan hidup ikan, pertumbuhan ikan, perilaku ikan maupun reproduksi ikan. Ikan yang sudah terpapar cemaran memiliki tingkah laku seperti kemampuan berenang dan perilaku menghindar. Perilaku ikan yang abnormal terlihat kerika bagaimana ikan tersebut berenang seperti menyendiri, berenang dengan tidak seimbang dan berputar. Selain tingkah laku yang abnormal secara fisik bisa dilihat dengan cara anatomi dengan melihat reproduksi ikan. Logam berat juga dapat berpengaruh terhadap hormon hormon reproduksi. Hormon akan tersumbat sehingga reproduksi terhambat. Menurut beberapa referensi menyatakan bahwa hormon  yang terpengaruh terhadap logam berat adalah hormon Gonado Somatic Index (GSI). dengan terpaparnya logam berat diameter oosit ikan menurun dan kelainan pertumbuhan larva.

Lingkungan sebagai salah satu irisan dari hidup masyarakat, harus dijaga dengan baik. Seluruh stakeholder harus berusaha, bahu membahu untuk bisa menjaga, mengelola dan memulihkan baku mutu lingkungan terutama air baik di daratan maupun di wilayah perairan. Bentuk kepedulian bukan hanya bersifat wacana saja namun juga aksi nyata agar lingkungan menjadi kembali pada keadaan baik dengan baku mutu lingkungan yang baik untuk kesejahteraan masyarakat sekarang dan yang akan datang.

 

Komentar