Zooplankton adalah plankton heterotrofik (kadang-kadang detritivorous). Berbeda dengan phytoplankton yang mampu memproduksi makanannya sendiri, zooplankto justu tidak mampu memprodyksi makanan sendiri, sehingga untuk bertahan hidup zooplankton biasanya mengkonsumsi phytoplankto, bakterioplankton, zooplankton lain (terkadang secara kanibal), detritus (atau salju laut) dan bahkan organisme nektonik. Individu zooplankton biasanya mikroskopis, tetapi beberapa (seperti ubur-ubur) lebih besar dan bisa dilihat dengan mata telanjang.
Fitoplanton umumnya dapat ditemukan diperairan tawar, laut dan payau. Setiap spesies memiliki batasan untuk hidup seperti faktor suhu, salinitas, pH hingga faktor nutrisi atau kesediaan makanan. Zooplankto akan mengkonsumsi produsen primer dan akan bertindak sebagai sumber nutrisi untuk konsumen tingkat trofik yang lebih tinggi. Saat
zooplankton mati, maka zooplankton akan diuraikan oleh detritus.
Selain itu, zooplankton juga dapat bertindak sebagai agen pembawa penyakit, karna zooplankton dilaporkan dapat bakteri Vibrio cholerae, yang menyebabkan kolera, hubungan simbiosis ini meningkatkan kemampuan bakteri untuk bertahan hidup di lingkungan akuatik, karena eksoskeleton menyediakan karbon dan nitrogen bagi bakteri.
Umumnya zooplanton berukuran kurang dari 2 mikron untuk picozooplankton, 2-20 mikron untuk nannozooplankton, 20-200 mikron microzooplanton dan 0.2-20 milimeters untuk mesozooplankton.
Berdasarkan grup taksonimisnya, zooplankton terbagi menjadi Protozoan atau protist yang mengkonsumsi bahan organic seperti microorganisme, kemudian Radiolarians unicellular predatory protists,selanjutnya ada Foraminiferans, Amoeba, Ciliates, Dinoflagellates, Mixotrops, Metazoa seperti copepods.
Dalam budidaya perikanan, zooplanton digunakan sebagai sumber nutrisi untuk larva ikan yang bersifat karnivora atau omnivora. Sehingga budidaya zooplankton sangat familiar pada unit-unit pembenihan ikan.
(Penulis: fitri Sil Valen)
