Sungai berperan penting bagi kehidupan biota air dan kelangsungan hidup manusia, seperti tempat penangkapan ikan konsumsi maupun ikan hias, benih dan induk bagi usaha akuakultur serta sebagai tempat usaha budidaya. Penelitian terdahulu oleh Akhrianti dan Gustomi (2018) di Sungai Tua Tunu Kota Pangkalpinang, Sungai Telang Kabupaten Bangka, Sungai Sembulan Desa Tanjung Pura Kabupaten Bangka Tengah, menemukan jenis yang paling banyak berasal famili Cyprinidae. Menurut Lowe-Mc Connell (1987) umumnya ikan perairan tawar Asia tropika didominasi famili Cyprinidae.
Ikan endemik adalah jenis ikan tertentu yang hanya memiliki sebaran geografis alami terbatas dan/ atau karakteristik ekosistem tertentu (Direktorat Kawasan Konservasi Jenis Ikan, 2015). Kottelat et al. (1993) menyatakan bahwa Pulau Sumatera memiliki 30 jenis ikan endemik. Secara geografis daerah penyebaran ikan air tawar di Indonesia terbagi menjadi tiga yaitu: Paparan Sunda, daerah Wallacea, dan Paparan Sahul. Kottelat & Whitten, (1996) memperkirakan jumlah spesies ikan air tawar di Indonesia sekitar +1.300 spesies, yang merupakan jumlah tertinggi di Benua Asia.
Status populasi jenis ikan endemik Sumatera berada pada tingkat rentan hingga genting (Wargasasmita, 2002). Kelompok ikan yang termasuk kategori kritis (critically endangered) di Pulau Bangka adalah Parosphomenus deissneri (Conservation Breeding Specialist Group, 2003). Penyebab kritisnya status ikan Parosphomenus deissneri, karena di Pulau Bangka adalah maraknya penambangan timah illegal yang menyebabkan meningkatnya pencemaran dan sedimentasi (Prianto & Husnah, 2009).
Hasil penelitian, terdapat enam spesies ikan endemik Pulau Bangka, yakni gurami paros/tempalak (Parosphromenus), kelik sulung (Encheloclarias tapeinopterus), tempalak mirah (Betta burdigala), Tempalak budu (Betta chloropharinx), tempalak punggor (Betta schalleri), Sundadanio gargula (Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung, 2022).
Status pemanfaatan ikan endemik Pulau Bangka ‘Rentan hingga kritis’. Hal ini diduga menurunnya habitat ikan endemik sebagai dampak aktivitas manusia yang mencemari lingkungan, seperti pertambangan timah rakyat di sungai dan rawa, alih fungsi lahan dan pembalakan hutan, serta menurunnya kualitas perairan karena limbah. Hal ini sesuai pendapat Prianto et al. (2016), saat ini beberapa jenis ikan endemik terancam punah akibat degradasi lingkungan, hilang atau berubahnya habitat dan eksploitasi berlebihan. Degradasi lingkungan yang mengancam kelestarian sumberdaya ikan disebabkan oleh alih fungsi lahan, eksploitasi berlebihan, persaingan penggunaan air, pembuangan limbah dari aktivitas perindustrian, pemukiman, pertanian dan perkebunan(Moyle & Leidy, 1992), serta perubahan iklim (Engelman et al., 2008). Selain itu, eksploitasi sumberdaya ikan menggunakan alat tangkap yang merusak dan berlebihan telah menyebabkan penurunan/kelangkaan sumberdaya ikan (Utomo et al., 2008).
Upaya pelestarian ikan endemik Pulau Bangka oleh pemerintah daerah, antara lain koleksi ikan-ikan endemik di kolam milik Balai Benih Ikan Kota Pangkalpinang. Tujuan koleksi ikan adalah pelestarian plasma nutfah, untuk tujuan domestikasi. Hal ini sesuai dengan pendapat (Yulfiperius, 2006), domestikasi dilakukan untuk melestarikan dan meningkatkan stok ikan yang hampir punah. Razi & Patekkai (2020), upaya-upaya untuk melestarikan ikan endemik dan lokal dapat tercapai melalui pemacuan stok, distribusi ikan di perairan umum, peningkatan stok perikanan, dan pengembangan budidaya perikanan.
Upaya lainnya adalah suaka perikanan, yakni menetapkan Sungai Upang Kabupaten Bangka sebagai kawasan yang berfungsi sebagai tempat berlindung/berkembangbiak ikan endemik, dan regulasi penangkapan ikan. Hal ini sesuai pendapat Prianto et al.. (2016), upaya untuk melestarikan jenis ikan endemik secara in-situ adalah melakukan suatu upaya pelestarian pada habitat alami spesies tersebut. Regulasi penangkapan ikan, untuk mencegah over fishing atau lebih tangkap.
Penulis : Robin, Endang Bidayani, Tiara Puspa Anjani
Gambar oleh : Yayasan Ikan Endemik Bangka Belitung, 2022
