Pangkalpinang, Bangka Belitung — Tim peneliti gabungan dari Universitas Airlangga (UNAIR) dan Universitas Bangka Belitung (UBB) melakukan kajian ilmiah mutakhir terhadap ikan endemik yang terancam punah di Pulau Bangka menggunakan pendekatan environmental DNA (eDNA) metabarcoding.
Penelitian ini dipimpin oleh Dr. Eng. Sapto Andriyono, S.Pi., M.T. dari Fakultas Perikanan dan Kelautan UNAIR dan Ahmad Fahrul Syarif, S.Pi., M.Si. dari Program Studi Akuakultur UBB, dengan melibatkan mahasiswa UBB yaitu Reza Betta dan Fajri Purnama. Penelitian ini menjadi bagian dari upaya identifikasi dan pemantauan spesies akuatik yang sulit dideteksi melalui metode konvensional, sekaligus membuka peluang untuk mengungkap spesies baru (candidate new species) yang belum terdokumentasi secara resmi.
Melalui teknologi eDNA metabarcoding, peneliti dapat mendeteksi keberadaan spesies ikan hanya melalui jejak DNA yang tersebar di air. Teknologi ini sangat efektif diterapkan di habitat kompleks seperti rawa gambut, sungai hitam, dan kawasan perairan terpencil Pulau Bangka yang merupakan rumah bagi banyak spesies langka, seperti Betta burdigala, Parosphromenus deissneri, dan Sundadanio gargula.
“Metode ini memungkinkan kami untuk melakukan pemetaan biodiversitas tanpa harus menangkap atau mengganggu ikan secara langsung. Ini sangat penting terutama untuk spesies langka dan endemik yang populasinya sangat terbatas,” jelas Dr. Sapto Andriyono.
Pengambilan sampel dilakukan melalui beberapa titik di wilayah Blinyu dan Bangka Selatan, dengan melibatkan Travonim, seorang pemandu lapangan lokal berpengalaman yang membantu tim menjangkau habitat-habitat terpencil.
Ahmad Fahrul Syarif menambahkan bahwa salah satu fokus penting dari penelitian ini adalah mendeteksi populasi tersembunyi dari ikan endemik yang sebelumnya diperkirakan telah menyusut drastis, sekaligus mengidentifikasi potensi keragaman genetik baru yang belum terungkap melalui pendekatan morfologi tradisional.
“Kami juga mendorong keterlibatan mahasiswa dalam riset lapangan berbasis teknologi, agar mereka tidak hanya belajar teori tetapi juga terjun langsung dalam upaya konservasi berbasis data genetik,” ujarnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah untuk pengelolaan spesies lokal yang lebih adaptif, serta mendorong kebijakan pelestarian berbasis bukti ilmiah. Hasil kajian juga akan dikembangkan untuk publikasi ilmiah dan dapat mendukung identifikasi kandidat spesies baru melalui integrasi data genetik dan taksonomi molekuler.
Dengan kolaborasi ini, UNAIR dan UBB menunjukkan bahwa sinergi antarperguruan tinggi dapat menghasilkan kontribusi nyata dalam pelestarian biodiversitas Indonesia, khususnya di daerah yang kaya spesies namun minim data seperti Pulau Bangka.
