Pilih Bahasa

Biodiversitas Sumberdaya Ikan Sungai Tebat Rasau

Salah satu geosite dari Unesco Belitong Global Geopark adalah Sungai Purba Tebat Rasau (Gambar 1). Sungai ini memiliki biodiversitas tinggi, dan secara khusus menjadi habitat bagi ikan arwana hias (Seleropages formosus), ikan ampong (Channa marulius) dan ikan buntal bintik hijau (Tetraodon nigroviridis). Sungai purba ini merupakan sungai aluvial yang dicirikan oleh kelimpahan Rasau (Pandanus helicopus), flora yang berkembang dengan baik dalam kondisi pasang surut, bebas dari air payau dan dalam pH yang konsisten 5,5 serta hidup bersama dengan berbagai jenis alga dan ikan. Rasau merupakan jenis tanaman yang khusus hidup di daerah sungai yang tingginya bisa mencapai belasan meter. Rasau merupakan tumbuhan endemik yang hanya bisa hidup subur di sungai purba  Lenggang.

Pemanfaatan biodiversitas khususnya ikan endemik danau untuk kebutuhan masyarakat belum pernah diteliti. Sehingga data pemanfaatannya belum tercatat dengan baik. Hal ini penting, agar kelestarian ikan spesies primitif dilindungi dapat terjaga. Komunitas Lanun Tebat Rasau merupakan Komunitas Pengelola Geosite Tebat Rasau yang dibentuk pada awal 2018. Komunitas ini bertujuan menjaga kelestarian biodiversitas danau. Penelitian ini akan mengkaji etnozoologi Komunitas Lanun sebagai upaya konservasi sumberdaya danau. Etnozoologi mengkaji  pengetahuan masyarakat lokal tentang pemanfaatan hewan yang ada disekitarnya.

Pengelolaan berkelanjutan sumberdaya danau seyogyanya juga memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan sosial. Pendekatan kuantifikasi sumberdaya alam dan lingkungan menggunakan valuasi ekonomi sumberdaya diperlukan untuk menghitung nilai ekonomi sumberdaya danau. Valuasi ekonomi adalah kuantifikasi nilai sumberdaya alam dan lingkungan dalam bentuk nilai uang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk valuasi ekonomi sumberdaya Sungai Purba Tebat Rasau;

Tebat Rasau diartikan ke bahasa Belitung menjadi bendungan air. Rasau adalah tumbuhan. Jadi bendungan air yang terbuat dari tumbuhan Rasau.  Sungai ini terbentuk akibat pergeseran sesar yang besar di kawasan Sunda purba saat era pertengahan Kenozoikum yang terjadi sekitar 65 juta tahun lalu. Akibat adanya pergeseran tersebut, terjadi bentukan bidang datar yang luas, dikenal dengan nama Rawa Rheotripik. Karenanya, oleh masyarakat setempat Tebat Rasau disebut dengan Geosite Sungai Purba Kenozoikum.

Masa kenozoikum merupakan era yang terjadi sekitar 65 juta tahun yang lalu. Di masa-masa ini, mamalia dan tumbuhan berbiji modern berkembang. Selain itu, kenozoikum juga terbagi dua, yakni kenozoikum tersier--mulai munculnya binatang dan mamalia seperti monyet atau kera. Sedangkan kenozoikum kuarter adalah masa-masa munculnya manusia. Kenozoikum juga sering disebut permulaan peradaban modern.

Ekosistem hutan kerangas disekitar danau juga menyimpan keunikan flora dan potensi obat herbal. Warisan geologi dan keanekaragaman hayati tersebut membentuk budaya masyarakat setempat yang tampak dari cara menangkap dan mengelola sumberdaya alam di kawasan Tebat Rasau.

Ekosistem air tawar dan hutan di Tebat Rasau, selain memiliki peranan penting bagi masyarakat, juga bisa menjadi laboraturium alam. Dari turun temurun  masyarakat lokal telah memiliki pengetahuan memanfaatkan mengelola SDA disana seperti cara menangkap ikan dan menggunakan tumbuhan sebagai rempah. Konsep Geopark membantu menambah referensi ilmiah bahwa Sungai Lenggang menjadi habitat spesies primitif Asian Arowana (Scleropages formosus) yang memiliki nenek moyang ikan purba mengindikasikan jejak sungai purba pada sungai lenggang. Asian Arowana termasuk dalam spesies yang terancam punah dan  masuk dalam IUCN Red List

Tumbuhan rasau ini dinilai memiliki banyak manfaat bagi ekosistem sungai seperti menetralkan debit air sungai, menyaring air agar bersih dan melindungi habitat ikan. Daunnya bisa dimanfaatkan untuk membuat anyaman seperti tikar, karong dan sebagainya. Bahkan, buahnya bisa dijadikan obat untuk penyakit kulit.

Sungai Tebat Rasau merupakan habitat alami dari ikan hias arwana, ikan ampong dan ikan buntal. Tebat Rasau yang luasnya sekitar 8.040 hektar, merupakan hulu dari Sungai Lenggang, sungai terpanjang (60,28 kilometer) dan terbesar (230-1.520 meter) di Pulau Belitung. Sungai ini bermuara langsung ke Selat Karimata.

Jenis-jenis ikan bernilai ekonomi yang dihasilkan dari Danau Tebat Rasau antara lain, ikan tapa, ampong, tengkelesak, baung, mengkawak, mentutu, temelayar kaca, cincang Nangka, tempalak, tilan, temelayar tanggok, gersik, lelais, bantak, keperas, seluang, ban, canamaru, buntal air tawar, kelik, kepinding, linggang, cempedik, semupuk, kepuyu, temerucong, temeliyong, lenjing, senggarong, kemuring dan timah-timah. Pemanfaatan ikan untuk konsumsi dan ikan hias.

            Ikan cincang nangka juga menjadi bahan baku pembuatan kerupuk yang dijual dengan harga Rp 5.000/ bungkus 50 gram, dan ikan baong untuk sambel ingkung  dengan harga Rp 25.000/ bungkus 100 gram. Selain ikan, Danau Tebat Rasau juga menghasilkan beragam hasil pangan non ikan bernilai ekonomi, diantaranya madu kelulut (Rp 50.000/botol 100ml), teh sepang, teh daun gelam, teh daun pelawan, teh berebat, dan teh akar kuning (Rp 10.000/bungkus 10 gram).

            Wisatawan yang berkunjung ke Geosite Tebat Rasau dapat menikmati atraksi wisata budaya seperti nanggok, nyirok dan gasing, wisata kuliner makan bedulang, dan eduwisata jenis-jenis ikan endemik dan lokal yang habitnya di Danau Tebat Rasau. Wisatawan berasal dari mancanegara, seperti Amerika, Inggris, Jerman, dan Perancis, wisatawan lokal, serta wisatawan domestik. Wisatawan tidak dipungut biaya masuk atau gratis.

Danau Tebat Rasau menjadi habitat ikan endemik, tempat mata pencaharian bagi sebagian masyarakat untuk menambah pendapatan rumah tangga, menyalurkan hobi memancing, melestarikan tradisi budaya dan kearifan lokal, dan tempat wisata. Menurut Djapani et al. (2021), nama Rasau diambil dari jenis tumbuhan pandan yang tumbuh pada  rawa dan sungai. Ekosistem hutan kerangas disekitar danau juga menyimpan keunikan flora dan potensi obat herbal. Warisan geologi dan keanekaragaman hayati tersebut membentuk budaya masyarakat setempat yang tampak dari cara menangkap dan mengelola sumberdaya alam di kawasan Tebat Rasau.

Oleh: Endang Bidayani

Komentar